Imam Jawad dan Keridhaan Allah Swt
Setiap Imam dari Ahlul Bait as di setiap
zamannya merupakan sosok termulia dan terpandai. Mereka memiliki metode
berbeda untuk menyampaikan ajaran suci Rasulullah. Kepatuhan kepada
Allah Swt merupakan landasan hidup para Imam Ahlul Bait. Oleh karena
itu, mereka sangat peka terhadap masalah seperti keadilan, menyelamatkan
manusia dari penyembahan selain Allah dan meluruskan hubungan pribadi
serta sosial.
Meski para Imam dalam sejumlah masalah kecil tidak berhasil mendirikan pemerintahan, namun dalam pandangan mereka kekuasaan dan pangkat hanya sarana untuk menegakkan keadilan, hak, menghancurkan kebatilan dan menegakkan agama Tuhan. Namun mengingat para Imam di setiap prilakunya merupakan manifestasi nilai-nilai luhur kemanusiaan dan moral maka secara tidak langsung kharisma mereka menempati setiap lubuk hati manusia.
Imam Jawad as dilahirkan pada tahun 195 Hijriah di kota Madinah. Imam Jawad as sejak kecil hingga menginjak usia remaja telah dikenal akan keilmuan, kefasihan, kesabaran dan ketakwaan. Beliau memiliki kecerdasan dan cara penyampaian yang lugas. Meskipun usianya masih muda belia, tapi dari sisi keilmuan dan keutamaan beliau telah disejajarkan dengan tokoh-tokoh masa itu. Dalam sejarah disebutkan, saat musim haji sekitar 80 orang ahli fiqih dari Baghdad dan kota-kota lain menuju Madinah untuk bertemu dengan Imam Jawad as. Mereka mencecar Imam dengan pelbagai pertanyaan ilmiah, namun Imam Jawad as dengan tenang dan mantap menjawab semua yang ditanyakan. Kejadian ini memupuskan segala keraguan yang selama ini menggelayut benak mereka.
Imam Jawad as hidup sezaman dengan dua khalifah Bani Abbasiah, Makmun dan Mu`tashim al-Abbasi. Sementara itu, pemerintahan Bani Abbasiah terkenal menyimpang dari ajaran Islam. Mereka hanya menampilkan keislaman secara zahir. Di saat yang sama pemerintahan Bani Abbasiah juga memiliki program terencana untuk mengubah ajaran suci Islam. Sementara itu, sikap anti dan penentangan yang ditunjukkan Imam Jawad terhadap pemerintah berkuasa mendapat reaksi luas. Sikap Imam ini juga menjadi sebab kehidupan beliau senantiasa menghadapi rongrongan dari penguasa.
Imam Jawad seperti para Imam Ahlul Bait lainnya tidak tinggal diam menyaksikan kezaliman dan penyimpangan yang dilakukan penguasa Abbasyiah. Kebenaran terus disampaikan Imam meski kepada masyarakat dalam kondisi yang sesulit apapun. Keberanian, ketegasan dan perlawanan beliau terhadap kezaliman penguasa membuat Bani Abbasyiah tak mampu membiarkan beliau untuk bebas bergerak dan membiarkannya terus hidup. Oleh karena itu, penguasa Bani Abbasiah meneror Imam Jawad di usia yang relatif muda, 25 tahun.
Salah satu usaha penting Imam di bidang budaya adalah meriwayatkan hadis sahih dari Rasulullah dan para Imam Ahlul Bait serta menjelaskannya kepada umat Islam. Kita pun kini menyaksikan warisan tak ternilai dari Imam Jawad berupa hadis dan petuah-petuah suci beliau. Selain meriwayatkan hadis, Imam Jawad juga aktif di tengah-tengah masyarakat menyebarkan budaya dan ajaran Islam. Imam juga tak kenal lelah memberikan petunjuk soal ekonomi dan kebutuhan pemikiran umat.
Di antara metode yang ditempuh Imam Jawad untuk melaksanakan perintah Allah adalah menciptakan relasi kuat antara manusia dan al-Quran. Menurut beliau ayat-ayat suci al-Quran harus merata di tengah masyarakat dan umat Islam di setiap ucapan serta prilakunya mencontoh ajaran al-Quran. Imam menandaskan bahwa mencari kerelaan Allah merupakan kunci kebahagiaan manusia. Dengan bersandar pada ajaran al-Quran, Imam menekankan kerelaan dan keridhaan Allah di atas segala sesuatu. Di ayat ke 72 Surat Taubah, Allah Swt menjelaskan bahwa kerelaan-Nya bagi seorang mukmin lebih utama dari segala sesuatu termasuk surga.
Imam Jawad as meminta masyarakat untuk senantiasa memikirkan kerelaan Allah Swt. Dalam hal ini beliau memberikan wejangan kepada umat Islam. Beliau bersabda, "Tiga hal dapat mengantarkan manusia kepada ridha Allah; banyaknya istighfar, keramah-tamahan dan banyak bersedekah. Tiga hal jika dimiliki oleh seseorang, ia tidak akan menyesal; tidak terburu-buru, bermusyawarah dan bertawakal kepada Allah ketika ia sudah mengambil keputusan".
Salah satu nikmat Ilahi bagi manusia adalah beristighfar dan bertaubat. Taubat dan istighfar merupakan salah satu pintu dari pintu-pintu Ilahi bagi hambaNya. Dengan bertaubat, dosa-dosa yang ada tersapu bersih dan manusia memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri serta memperbaiki kesalahannya dengan melakukan perbuatan bajik. Oleh karena itu, dalam bertaubat manusia dilarang bermain-main. Taubat harus dilakukan dengan serius, karena penyesalan membawa beban di pundak manusia.
Istighfar berarti meminta pengampunan. Artinya manusia meminta Allah mengampuni kesalahannya dan mengharap dirinya masuk dalam rahmat Ilahi. Imam Ali as terkait hal ini berkata," Di alam ini terdapat dua sarana untuk menyelamatkan manusia dari siksaan Allah. Pertama adalah keberadaan Rasulullah yang terputus dengan wafatnya beliau. Namun sarana kedua kekal hingga hari Kiamat. Sarana itu adalah istighfar. Oleh karena itu, berpegang teguhlah dengan istighfar dan jangan sekali-kali kalian lepas.
Istighfar dapat menjadi perantara untuk menyingkirkan azab dunia dan akhirat yang ditimbulkan oleh perbuatan jelek manusia. Salah satu dampak dari istighfar menurut al-Quran adalah mencegah azab Ilahi, pengampunan dosa serta menambah rizki, kesejahteraan dan usia. Sikap ramah, menurut Imam Jawad dapat menuntun manusia mencapai keridhaan Allah. Di metode pertama (istighfar) Imam menjelaskan hubungan antara seorang hamba dan Tuhan. Metode kedua dan ketiga mengajarkan manusia bagaimana berinteraksi dengan sesamanya. Artinya keridhaan Allah dapat dicapai seseorang dengan melayani dan mengabdi kepada sesamanya.
Pastinya sifat ramah tamah membuat seseorang menjadi tawadhu (rendah hati) dan tidak congkak, karena kesombongan membuat seseorang tak segan-segan berlaku zalim kepada sesamanya. Metode ketiga menurut Imam Jawad untuk mencapai keridhaan Tuhan adalah bersedekah. Imam Jawad sendiri terkenal karena kedermawanannya sehingga dijuluki al-Jawad. Dengan demikian beliau sendiri telah memberi contoh kepada umatnya dan tidak sekedar menganjurkan.
Infak dan sedekah banyak disinggung dalam al-Quran. Ibarat ini disebut al-Quran setelah shalat yang merupakan ibadah paling urgen bagi manusia. Dengan demikian menurut Imam Jawad penghambaan memiliki dua sayap. Sayap pertama, interaksi dengan Allah dan sayap kedua interaksi dengan sesama manusia dengan penuh tawadhu. Sifat tawadhu pada diri manusia dapat dipupuk dengan membiasakan diri memberi sedekah dan berinfak.
Setiap manusia berhak mengeluarkan hartanya dengan berinfak di jalan Allah. Namun demikian jangan sampai manusia memaksakan diri sehingga dirinya malah mendapat kesulitan. Infak dan berbuat baik dengan segala bentuknya khususnya bersedekah merupakan salah satu jalan bagi manusia untuk mencapai keridhaan Allah Swt. Karena manusia dengan kerelaannya mengeluarkan hartanya di jalan Allah. Orang seperti ini telah melepas keterikatan dirnya dengan materi demi keridhaan Allah. (IRIB Indonesia)
Yang ditolak oleh Islam menurut mazhab Ahlulbayt bukanlah teori Evolusi akan tetapi teori evolusi Darwin. Kesalahan fundamental dari teori evolusi darwin adalah bawa ia (Darwin) menisbatkan timbulnya beragam spesies yang berbeda ini karena faktor variasi/mutasi, kemudian terjadi seleksi alam. Hal ini jelas tidak sesuai dengan fakta yang ada (fakta paleontologis) dan fakta rasional (hitungahn matematis).
Apabila benar adanya mutasi secara acak yang menyebabkan adanya variasi, maka seharusnya untuk menghasilkan dua spesies berbeda yang berasal dari satu spesies asal dibutuhkan banyak spesies perantara. Maka untuk menghasilkan keberagaman fauna dan hayati seperti yang ada sekarang ini semestinya dibutuhkan adanya jutaan bahkan trilyunan spesies binatang dan tumbuhan perantara yang gagal beradaptasi/ gagal seleksi. dan tentunya menghasilkan timbunan jumlah fosil yang jauh lebih banyak lagi. Bahkan bisa jadi lapisan kerak kulit bumi ini seharusnya terbentuk dari fosil-fosil binatang-binatang dan tumbuhan yang mengalami mutasi, untuk menghasilkan jumlah keberagaman fauna dan hayati seperti yang ada sekarang. kenyataannya eksplorasi paleontologi tidak menunjukkan fakta tersebut.
Maka Teori Evolusi Darwin yang didasarkan pada mutasi dan seleksi alam sesungguhnya telah runtuh. Tapi tidak demikian halnya dengan Teori Evolusi Agama.
Teori Evolusi Agama menisbatkan bahwa adanya variasi makhluk-makhluk di alam semesta ini tidaklah berdasarkan pada mutasi dan seleksi alam. yang apabila ditarik landasan filosofisnya akan ditemui bahwa Teori Mutasi dan Seleksi Alam Darwinisme mendasarkan bahwa penciptaan ini hanyalah berdasar pada azas kebetulan belaka.
Bagi Teori Evolusi Agama tidak ada kebetulan dalam rancangan penciptaan alam ini. Teori Evolusi Agama mendasarkan diri bahwa keberagaman Ciptaan ini disebabkan karena makhluk sebagai obyek evolusi juga sekaligus memiliki kehendak ikhtiari sebagai subyek evolusi, untuk mengembangkan dirinya mengikuti tuntunan dan kehendak Ilahiah. Maka alam semesta sebagai makhluk Allah dan termasuk segala makhluk-makhluk Allah yang lainnya di alam itu sendiri, dalam usahanya untuk mencapai keridhaan-Nya, dilakukan dengan cara mendekatkan diri dengan kehendak-Nya dan berupaya secara sadar untuk mewujudkan kehendak Allah atas dirinya. Dengan ini maka ia sekaligus juga telah mengembangkan potensi dirinya tidak hanya secara batiniah kepada Allah SWT, etapi juga secara material akan terbentuk proses evolusi makhluk-makhluk Allah yang menunjukkan keagungan-Nya. Apabila ada kehendak ikhtiari makhluk-makhluk Allah untuk mengembangkan diri ke arah yang lebih baik dalam upaya untuk mencapai kehendak Allah yang akan berakibat akan diperolehnya keridhaan-Nya, maka evolusi terjadi secara terarah, terencana, dengan penuh kesadaran dsan mewujudkan rancangan adanya Pencipta dibelakang semua materialisme yang terindera ini.
kita bukanlah keturunan kera atau monyet. kalau berasal-usul yang sama; iya, akan tetapi kita bukan berasal dari kera, tapi kalau ditilik dari teori evolusi sesungguhnya bahkan gajah dengan semut juga berasal dari asal yang sama.
ingat bahwa biasanya yang pada awalnya sangat bertentangan dengan ilmu pengetahuan adalah doktrin-doktrin gereja dan cerita-cerita israiliyat, cerita gubahan-gubahan para ulana ahlul kitab yang ingkar kepada Allah. Mereka selalu keras menentang ilmu pengetahuan. Ingat yang terjadi pada Galileo. Gereja juga sangat menentang Teori Evolusi, karena kebodohan, mereka menisbatkan bahwa teori Evolusi beranggapan bahwa manusia adalah keturunan kera, padahal manusia dan kera berada pada cabang yang berbeda.
sebenarnya banyak doktrin sejarah Islam yang penafsirannya malah mengadopsi cerita-cerita israiliyat (cerita-cerita yang telah dipalsukan oleh pendeta2 yahudi yang mengikuti hawa nafsunya) seperti misalnya anggapan incest yang terjadi pada putra-putri Nabi Adam. Padahal incest dilarang dalam agama, pembunuhan Habil adalah pembunuhan yang pertamakalinya di dunia yang dikarenakan incest, KIta patut mempertanyakan asal-usul doktrin kita sendiri yang agak aneh, dan tidak bersumber dari Kitab Suci Alqur’an, patut diketahui bahwa bahkan binatang yang bebas hidup liar di alam tidak pernah melakukan incest! binatang yang melakukan incest adalah binatang yang hidup dalam peliharaan ekosistem buatan manusia. sunnguh amat aneh jika binatang tidak melakukan incest tapi manusia justru melakukannya! hal ini melalui tuntunan agama pula!
Patut diketahui bahwa amat banyak terjadi pengadopsian cerita-cerita Islam yang diambil dari cerita-cerita Israiliyat, seperti misalnya bahwa perempuan diambil dari tulang rusuk laki-laki, cerita ini adanya di kitab perjanjian lama (bukan dalam Alqur-an) Alqur’an sendiri telah menjelaskan bahwa Kitab-kitab Yahudi banyak yang telah disimpangkan ceritanya oleh ‘ulama’ mereka yang ingkar. Apabila menengok cerita Perjanjian Lama Yahudi maka akan banyak sekali ditemui kekacauan cerita, seperti cerita Nabi Luth yang meniduri anak perempuannya sendiri, Nabi Nuh yang mabuk, dll. Kebetulan cerita dari Bani Israil inilah yang banyak diambil oleh kalangan muslim awal sebagai sumber rujukan, hal ini disebabkan keengganan mereka mengambil sumber dari ahlulbayt sebagai rujukan sumber cerita sejarah kisah manusia di masa lampau.
Selain daripada itu sejarah membuktikan bahwa tradisi yang selalu bertentangan dengan ilmu pengetahuan di masa lampau adalah tradisi ahlul kitab, terutama tradisi gereja. tercatat Galileo Galilei dan Charles Darwin sendiri adalah pihak-pihak yang amat sangat dimusuhi oleh gereja, karena ilmu pengetahuan bertentangan dengan doktrin gereja. Sedangkan Islam justru merupakan agama dimana ilmu pengetahuan sangat subur dan dipupuk secara mendalam oleh agama ini. Tercatat banyak ilmuwan Islam yang sampai sekarang merupakan para peletak landasan ilmu pengetahuan di dunia